Ramadhan dan Tradisi Islam Nusantara

Home / Kopi TIMES / Ramadhan dan Tradisi Islam Nusantara
Ramadhan dan Tradisi Islam Nusantara Suaeb Qury, Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor NTB 2010-2014. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESJOMBANG, MATARAM – Mengisi Ramadhan bagi setiap muslim di Nusa Tenggara Barat, khusunya warga Nahdliyin dapat dijumpai diberbagi forum majelis, baik itu majelis dzikir maupun majelis ilmu.

Pada bulan Ramadhan 1440 H kali ini segenap warga NU NTB melakukan berbagai kegitan mengisi Ramadhan termasuk dalam memperdalam  Kajian Fiqih, guna memperkuat keilmuan kader-kader NU di NTB.

Kehadiran para pakar fiqih dan para Tuan Guru yang memberikan pencerahan dan kajian bagi warga NU terasa indah dan penuh khidmad. Bukan sekedar memahami dan menjalankan arti dari ajaran Islam, akan tetapi forum kajian Fiqih yang dihadiri dan  diisi oleh para  pakar fiqih yang hadir diantaranya adalah TGH Turmudzi Badaruddin, Akhmad Muzakki, Masnun Tahir, TGH Munajib dan KH Zaidi Abdad serta TGH Shohimun Faisal. 

Para pakar ini menggali secara khusus amaliyah dan tradisi keIslaman yang dijalankan oleh warga Nahdiyin dan masyarakat NTB pada umumnya. Bukan itu saja, dalam forum kajian fiqih ini juga membedah Konsepsi Islam Nusantara. 

Muzakki, salah satu dari pembicara menjelaskan bahwa, Islam Nusantara bukan merupakan produk baru, melainkan sebuah konsepsi atas apa yang menjadi praktek-praktek yang telah dilakukan oleh ulama-ulama nahdliyin. 

Sejalan dengan pemikiran dan gerakan yang dibumikan oleh KH Said Aqil Sirodj, yang mengkonsepikan IsIam Nusantara sebagai cara kita bersikap, bertindak, sebagai warga NU. Mempertajam gerakan pemikiran Islam Nusantara dalam konteks keinginan. 

Muzakki juga menganalogikan Islam Nusantara seperti KFC yang ada di Indonesia dan KFC yang ada di Thailand.

Artinya Islam Nusantara ini merupakan berbasis kearifan lokal dan kondisi daerah itu sendiri, tetapi tidak juga menghilangkan Islam yang ada di Indonesia.

Internalisasi pemahaman Islam Nusantara An Nahldiyah ala NU, apa yang dijalankan oleh umat Islam pada umumnya di Indonesia, seperti haji kita ke Mekkah, shalat juga sama, dan tahlilan, ziarah kubur serta maulidan.

Bukan saja aspek amaliyah yang menjadi tantangan yang dihadapi oleh umat islam di Indonesia dan begitu juga dengan warga Nadlatul Ulama. Namun, di tengah keterbukaan publik dan informasi media sosial, menjadi tantangan NU yang nyata. Banyaknya media hoaks dan kelemahan militansi kader NU lantaran salah menerima informasi media sosial. 

Oleh karena itu, kader NU tidak boleh gagap dengan teknologi informasi, dan tidak boleh kalah cepat untuk penyebaran informasi yang positif, guna menangkal peredaran hoaks terhadap NU dan kiai-kiai NU, maka diperlukan pemahaman keagamaan yang bisa menjawab tantangan dunia yang penuh dengan informasi dan teknologi.

Membangun umat Islam dengan kesadaran akan pemahaman yang sama tentang arti Islam Nusantara, melalui kajian yang berbasis  teknologi informasi sangat dubutuhkan. Dengan model dan konten pendekatan yang secara praktis terkait dengan amaliyah- amaliyah ke Islaman yang di jalankan umat Islam di Indonesia.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan.(*)

Penulis adalah Suaeb Qury, Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor NTB 2010-2014

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com