Kekerasan di Institusi Pendidikan, Mari Mengadopsi Doktrin Pendidikan Pesantren

Home / Kopi TIMES / Kekerasan di Institusi Pendidikan, Mari Mengadopsi Doktrin Pendidikan Pesantren
Kekerasan di Institusi Pendidikan, Mari Mengadopsi Doktrin Pendidikan Pesantren Is’adur Rofiq, Mahasiswa Teknologi Pertanian Universitas Jember Dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah dan Al-Jalaly Sumenep Jawa Timur

TIMESJOMBANG, JEMBERADA suatu kisah yang menarik untuk merefleksi kejadian kekerasan di lembaga pendidikan akhir-akhir ini. Dulu, ada seseorang yang memondokkan anaknya di suatu pesantren. Pada saat sowan ke Kyai, dia membawa anaknya dan sebuah cambuk. Dia berkata kepada sang Kyai, “Saya pasrahkan anak saya, silahkan jenengan mau mendidik seperti apa. Juga saya serahkan cambuk ini agar apabila anak saya nakal, pukul saja sesuai kehendak jenengan.”

Dari kisah tersebut, sepintas memang ekstrem, tapi setidaknya kita dapat mengambil pelajaran bahwa guru adalah orang tua kedua dan sepatutnya diberi kebebasan dalam mendidik para siswanya. Dalam dunia pondok pesantren, hakikat pendidikan adalah mencari keberkahan dari sang guru. Lalu bagaimana dengan pemandangan  pendidikan masa kini? Ketidaksopanan siswa terhadap guru yang akhir-akhir ini viral di berbagai media, merupakan tamparan keras tentang potret krisis moralitas pendidikan masa kini, sehingga perlu rasanya ada perbaikan mengenai sistem tata kelola pendidikan agar siswa menghormati guru selayaknya menghormati kedua orang tua.

Krisis moralitas yang melanda di dunia pendidikan, acap kali dipandang sebelah mata. Disadari atau tidak, hal ini akan berdampak buruk terhadap kehidupan yang akan datang. Semisal siswa yang tidak sopan semasa sekolah dan selalu menolak apa yang diinstruksikan oleh sang guru, maka suatu saat ketika dia bekerja di suatu perusahaan, maka ia akan menjadi karyawan yang pemberontak terhadap pimpinan perusahaan dan akan merugikan perusahaan itu sendiri.

Salah kaprah pendidikan masa kini adalah ketika memandang kecerdasan dan nilai tinggi adalah tolak ikur dari keberhasilan pendidikan. Ini berbanding terbalik dengan prinsip yang ada di pondok pesantren. Secara garis besar, pondok pesantren lebih memprioritaskan keberkahan yang diperoleh dari sang guru daripada kecerdasan intelektual yang tinggi. Di sisi lain, untuk mendapatkan keberkahan tersebut, maka santri harus mempunyai sifat sopan santun terhadap guru. Sehingga dalam hal ini, sangat jarang ada kasus atau realita santri melakukan kekerasan terhadap guru, karena prinsip yang berlaku di pondok pesantren adalah memporsikan kesopanan lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan. 

Prof. Mahfud MD pernah mengatakan bahwa orang tua, masyarakat, tokoh masyarakat dan pondok pesantren mempunyai tugas sentral dalam membangun mentalitas pendidikan dan penguaatan akhlak budi pekerti sejak dini kepada anak-anak. Pernyataan Prof. Mahfud MD ini harus dijadikan refleksi tentang pentingnya pendidikan karakter. 

Entah kapan ketidaksopanan siswa terhadap guru akan berlanjut. Tapi setidaknya kita harus bersyukur atas sistem pendidikan yang ada di pondok pesantren yang tetap konsisten mempertahankan nilai-nilai karakter di era globalisasi sekarang. Kemerosotan moralitas yang ditandai dengan beberapa kejadian yang memalukan akhir-akhir ini seperti kekerasan terhadap guru  di Sampang dan ketidaksopanan siswa di salah satu sekolah di Gresik, hendaknya dijadikan evaluasi agar peristiwa-peristiwa memalukan tidak terjadi lagi. 

Sekadar rekomendasi kepada pihak pemerintahan, dirasa sistem pendidikan di pondok pesantren sangat bagus untuk membangun karakter yang jernih. Sehingga sangat bagus untuk diadopsi oleh lembaga pendidikan yang lain, baik nonformal, formal, maupun informal. Yakinlah, para alumninya nanti tidak kalah bersaing dengan lulusan sekolah luar negeri sekalipun. Juga yakinlah mereka akan menjadi masyarakat yang militan dan siap membawa perubahan untuk negeri Indonesia ini. 

***

*)Penulis: Is’adur Rofiq, Mahasiswa Teknologi Pertanian Universitas Jember Dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah dan Al-Jalaly Sumenep Jawa Timur.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com