Lapisan Pelindung Generasi dari Praktik Bullying

Home / Kopi TIMES / Lapisan Pelindung Generasi dari Praktik Bullying
Lapisan Pelindung Generasi dari Praktik Bullying Chusnatul Jannah - Pengajar, member komunitas Creator Nulis

TIMESJOMBANG, PASURUANPRAKTIK bullying belakangan makin marak terjadi. Meski, praktik perundungan ini sebenarnya sudah lama berlangsung. Namun, fakta-fakta yang terkuak satu demi satu makin menambah pilu nasib generasi hari ini. Seperti kasus bullying yang viral di linimasa media sosial. 

Sebagaimana yang diwartakan kompas.com, 13/2/2020, dalam video berdurasi 28 detik tersebut, tampak tiga orang siswa laki-laki merundung seorang siswi perempuan. Mereka menendang dan bahkan memukul si korbannya dengan gagang sapu. Korban yang tampak tidak berdaya hanya menundukkan kepala di mejanya sambil menangis. CA (16), siswi SMP Muhammadiyah Butuh Purworejo yang jadi korban penganiayaan 3 temannya sudah lama mengeluhkan kenakalan teman-temannya di sekolah. Sekitar 4 bulan lalu, CA mengeluhkan badannya yang terasa sakit atau pegal-pegal ke Nuryani, budhe-nya.

Masih dalam kasus yang sama, belum lama ini seorang siswi kelas VII SMP Negeri 16, kota Malang, Jawa Timur, harus kehilangan jari tengahnya karena diamputasi. Korban perundungan yang menimpa pelajar sekolah makin beragam kasusnya. Dari pemukulan, tendangan, hingga depresi berat mewarnai potret buram dunia pendidikan. Mirisnya lagi, pelaku perundungan kebanyakan berasal dari teman-teman sekolah korban. 

Melansir dari cnnindonesia.com, perundungan (bullying) adalah perilaku atau tindakan agresif yang melibatkan ketidakseimbangan kekuatan sehingga merugikan orang lain. Ada lima jenis perundungan. Pertama, perundungan fisik. Perundungan fisik adalah penindasan yang dilakukan dengan cara melibatkan fisik seperti melukai tubuh seseorang yang dapat menyebabkan efek jangka pendek dan jangka panjang.

Kedua, perundungan verbal. Yaitu perundungan verbal adalah intimidasi yang melibatkan kata-kata baik secara tertulis atau terucap. Perundungan secara verbal meliputi menggoda, memanggil nama yang tidak pantas, mengejek, menghina, dan mengancam. Ketiga, perundungan sosial. Yaitu penindasan yang mengakibatkan merusak reputasi atau hubungan seseorang. Hal ini mencakup berbohong, mempermalukan, dan mengucilkan seseorang. Keempat, perundungan di dunia maya, yaitu perilaku intimidasi yang dilakukan menggunakan teknologi digital. Kelima, perundungan seksual, yaitu tindakan berbahaya dan memalukan seseorang secara seksual. 

Bullying, Produk Nyata Generasi Sekuler

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat dalam kurun waktu 9 tahun dari 2011 sampai 2019, ada 37.381 pengaduan. Untuk Bullying baik di pendidikan maupun sosial media mencapai 2.473 laporan. Di tahun Februari-Januari sudah ada 4 kasus bullying yang sempat viral di media sosial. Ini kasus yang terungkap saja. Yang tidak terungkap mungkin masih banyak. Deretan fakta di atas mengindikasikan bahwa generasi dalam asuhan sistem sekuler bermental beringas dan liar. Sekolah yang semestinya menjadi rumah kedua bagi anak-anak, malah seperti neraka bagi anak-anak yang menjadi korban bullying. 

Revolusi mental yang digagas pemerintah menampakkan kegagalannya. Visi Indonesia maju, SDM unggul bagai menegakkan benang basah bila generasi hari ini masih dididik dengan sistem sekuler. Beberapa hal yang patut diperhatikan menyusul  maraknya perundungan di sekolah, diantaranya:

Pertama, peran keluarga. Dalam hal ini, ayah dan ibu sebagai pemegang kunci. Keduanya harus memahami bagaimana mendidik dan membekali anak-anak dengan suasana iman dan ketakwaan. Sayangnya, sistem sekuler mengikis itu semua. Orangtua tak lagi memperhatikan pengajaran dan pendidikan yang harus diterima anak-anak. Penanaman akidah dan ketaatan kepada Tuhan hampir sirna karena pengarus sistem ini. Menyekolahkan anak sebatas menitipkan dengan pasrah tanpa menjalin komunikasi intensif dengan pihak sekolah. Hal ini diperlukan agar orangtua masih bisa mengontrol dan memantau perkembangan anak-anaknya. 

Kedua, tontonan sehari-hari. Saat ini, betapa banyak tontonan tak layak yang bertebaran di media sosial maupun visual. Bahkan diproduksi secara massal lewat film-film remaja bertemakan cinta, persaingan, pernusuhan dan sebagainya. Alhasil, apa yang mereka lihat menjadi tuntunan. Dari sinilah pengawasan orangtua bisa dibilang longgar. Penggunana gawai yang kebablasan akhirnya membuat generasi mendapat informasi yang mungkin tak seharusnya mereka terima di usia yang masih labil. 

Ketiga, lingkungan sekolah dan masyarakat. Lingkungan adalah tempat paling mudah mempengaruhi generasi. Yang baik bisa menjadi buruk lantaran terpengaruh lingkungan sekitar. Budaya amar makruf nahi mungkar hampir tak kelihatan dalam masyarakat sekuler. Individualis, egois, dan apatis. Begitulah masyarakat yang terbentuk dalam sistem kapitalis-sekuleris. 

Keempat, kurikulum pendidikan. Tak dipungkiri, kurikulum pendidikan hari ini masih kental dengan nilai-nilai sekuler. Sekolah hanya dianggap sebagai tempat meraih prestasi akademik. Namun, kering dengan prestasi spiritual. Meski banyak menjamur sekolah agama, faktanya tak mampu membendung gempuran sistem sekuler yang telah mengakar lama. Generasi kehilangan jati dirinya, perilakunya rusak.

Semua komponen tersebut harus saling bersinergi. Dan sinergitas ini hanya akan terwujud bilamana negara melakukan perannya dengan baik. Sebagaimana dulu saat Islam diterapkan, tatanan kehidupan masyarakat benar-benar teratur dan berbudi luhur.

Stop Bullying dengan Sistem Islam

Islam memiliki tindakan preventif dan kuratif dalam mengatasi bullying. Pertama, peran negara. Dalam hal ini, kurikulum pendidikan dalam Islam berbasis akidah Islam. Penanaman akidah Islam dari usia dini menjadi modal dasar. Dengan akidah yang kuat, anak tak akan melakukan tindakan yang dilarang oleh Allah. Tontonan yang disajikan dalam media apapun juga harus bebas dari unsur kekerasan, pelecehan, maksiat, dan segala bentuk yang dilarang dalam Islam. Negara akan menutup akses-akses yang dinilai menyimpang. 

Kedua, peran masyarakat dan sekolah. Dengan sistem Islam, masyarakat akan terbiasa beramar makruf nahi mungkar. Merekalah pengawas dan pengontrol perilaku masyarakat. Sesuai atau tidak dengan Islam. Adapun sekolah juga menerapkan kurikulum berbasis Islam. Setiap guru tak akan dipusingkan dengan beban kerja dan gaji rendah. Sebagaimana guru di masa Islam dulu bergaji tinggi dan fokus mendidik generasi dengan benar. 

Ketiga, peran keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Ayah bekerja mencari nafkah, sedangkan ibu fokus mendidik anak dalam pengasuhannya. Ayah tak akan dibebani dengan berbagai problem ekonomi seperti hari ini. Sebab, negara memberi jaminan pendidikan bagi rakyatnya. Negara juga membuka lapangan kerja bagi laki-laki. Perempuan tak akan dibebani dengan persoalan ekonomi. Karena ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Kebutuhan dasar terpenuhi, ibu mengurusi generasi, dan ayah tenang dalam menafkahi. Maka tak perlu ada lagi produk generasi gagal bila sistem Islam diterapkan.

Inilah beberapa tindakan preventif dalam Islam. Adapun tindakan kuratifnya, negara akan memberlakukan sistem sanksi yang tegas. Sistem sanksi yang mampu memberi efek jera bagi pelakunya. Tak ada dikotomi bagi pelaku usia muda dan dewasa. Sebab, dalam Islam, taklif hukum terjadi tatkala anak sudah memasuki usia baligh. Bukan berdasarkan rentang usia seperti sekarang. Dengan penerapan sistem Islam, bullying dapat dihentikan. Karena Islam memiliki lapisan pelindung dari praktik bullying. Yakni, akidah, syariah, dan sistem sanksinya.

***

*)Oleh Chusnatul Jannah - Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com