Antara Aku, Kamu, dan Corona

Home / Gaya Hidup / Antara Aku, Kamu, dan Corona
Antara Aku, Kamu, dan Corona (FOTO: Glutera.com)

TIMESJOMBANG, JAKARTA – Masa karantina saat pandemi corona atau Covid-19 bisa jadi membosankan dan memicu stres. Hal itu disebabkan tubuh melepaskan hormon adrenalin dan kortisol sebagai reaksi atas apa yang dirasakan.

Wabah penyakit menular, seperti virus corona bisa menakutkan dan mempengaruhi kesehatan mental. Meskipun sangat penting untuk tetap mendapat informasi, tetapi ada hal-hal yang semestinya dilakukan untuk mengelola kesehatan mental.

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Psychology Today, panik dan pikiran negatif membuat seseorang tidak bisa berpikir jernih, sehingga mengganggu proses pengambilan keputusan. Ketidakstabilan emosi karena dilanda kepanikan ini cenderung mengarahkan seseorang untuk mengambil keputusan yang buruk. 

Tukar Nasib dengan Team Medis

Karena kita semua di dunia ini, tidak peduli kaya atau miskin, semuanya sedang mengalami kesulitan ekonomi yang dahsyat. Bahkan virus corona pun ikut juga mengeluh melihat masih terlalu banyak orang-orang berkerumun. Virus corona sudah merasa capek berpindah ke inang yang baru, dimana inang tersebut sepertinya “sengaja siap” menerima kedatangannya.

Jika aku, kamu mengeluh, bagaimana dengan team medis? Team yang saat ini berjibaku menangani pasien-pasien positif Covid-19, yang setiap hari puluhan hingga ratusan orang meninggal. Belum lagi alat pelindung diri (APD) yang terbatas, hampir tidak ada.

Maukah kamu tukar nasib dengan team medis saat ini? Apapun kondisi Anda masih jauh lebih baik dan tetaplah bersyukur. Jika perlu bantulah team medis dengan apa yang bisa kamu bantu.

Ada cerita unik yang bisa ditafsirkan berbeda. Di satu sisi membuat seseorang putus asa, di sisi lai  bisa membuat seseorang menjadi lebih kuat.

Ada 2 orang wanita di Amerika dan diperkosa oleh 4 orang. Kedua wanita ini menanggapi kejadian yang menimpanya dengan cara yang berbeda.

Yang satu memberi arti bahwa ini adalah "hukuman Tuhan, saya dikotorin, saya tidak ada artinya, sekarang saya jadi sampah". Kalo dia memberi arti seperti itu, apa yang akan dia lakukan? Betul sekali, dia bunuh diri.

Sedangkan yang kedua sama-sama diperkosa tapi dia memberi arti yang berbeda. Dia memberi arti, "Ini merupakan panggilan Tuhan, saya tahu kejadiannya ini tidak baik. Tapi pasti Tuhan menginginkan saya menjadi lebih baik karena kejadian yang tidak baik ini". Dia beri arti apa? "Saya harus belajar beladiri". Dia memberi arti apa? "Saya harus perhatiin orang banyak, saya harus mengajarkan beladiri kepada wanita yang lain".

Dia keliling dunia, dia belajar bagaimana caranya beladiri, dan kemudian dia pulang ke Amerika, dan dia mendirikan satu organisasi yang namanya Woman Self Defence. Dia menikah, dia bahagia dan dia tidak pernah mengingkari bahwa dia pernah diperkosa. Tapi dalam hal ini dia malah menjadi lebih baik dan lebih baik dalam hidupnya dia, karena dia memberi arti yang membuat dia menjadi lebih baik.

Apapun yang Terjadi di Dunia Ini Tidak Ada Artinya Sampai Kita Sendiri yang Memberi Arti.

Jadi pastikan, entah kegagalan kita, ataupun ceritanya, cerita-cerita jelek ini yang terjadi, atau suatu hal yang tidak baik, yang pasti selalu ada dalam hal hidup ini, kejadian - kejadian yang kita tidak inginkan.

Pastikan kita memberi arti terhadap kejadian tadi sehingga kita besok menjadi lebih baik karena kejadian hal itu.

Apa yang harus dipelajari dari kejadian ini, yang akan membuat besok jadi yang lebih baik? Atau apa yang harus kita pelajari karena kejadian ini yang akan membuat saya besok jadi yang lebih baik, lebih kuat, lebih hebat, lebih kaya, lebih harmonis, atau lebih apapun?. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com