Psikolog Berharap Media Sajikan Informasi Positif Soal Covid-19

Home / Gaya Hidup / Psikolog Berharap Media Sajikan Informasi Positif Soal Covid-19
Psikolog Berharap Media Sajikan Informasi Positif Soal Covid-19 Dekan Fakultas Psikologi Universitas Jayabaya, Jakarta, Dr. Widura Imam Mustopo. (FOTO: Istimewa)

TIMESJOMBANG, JOMBANG – Peran pemberitaan yang disajikan oleh media dalam mendukung pengentasan masalah Virus Corona (Covid-19) di Indonesia dinilai urgen oleh kalangan psikolog. Hal itu dikarenakan peran media dalam menyiarkan berita bisa berdampak positif sekaligus negatif hingga memperburuk kejiwaan ataupun psikis masyarakat.

Apalagi, saat ini masyarakat sudah tak bisa dilepaskan dari adanya teknologi yang semakin terbuka dan beritapun muda diakses oleh siapa saja. Oleh sebab itu, psikologi berharap, media bisa memberikan edukasi dan menyiarkan berita yang humanis hingga membuat masyarakat tidak panik dalam mengahadapi masalah Covid-19 ini.

Psikolog Kabupaten Jombang, Arifa Retnowuni mengatakan, berita positif maupun negatif memang berdampak signifikan. Karena apa yang dibaca, didengar, dan lihat akan diterima langsung oleh sistem saraf pusat. Ketika berita itu negatif maka otak akan menerima itu sebagai sebuah ancaman, menakutkan, membuat cemas. Ketika mengalami cemas, takut, otomatis akan berpengaruh terhadap hormon yang ada di dalam tubuh. Salah satu hormon yang sangat berpengaruh adalah hormon endorfin.

Hormon endorfin, lanjut lulusan UMM itu, adalah hormon untuk menciptkan perasaan senang, damai dan bahagia, sehingga meningkatkan imunitas tubuh. Ketika hormon ini kerjanya seimbang maka sistem kerja organ yang ada di dalam tubuh juga normal. Namun sebaliknya, jika hormon ini terhambat maka tubuh pun akan mudah drop, karena pembentukan imunitas dalam tubuh terganggu karena orang tersebut stres dan cemas

"Lebih baiknya lagi, karena masyarakat sekarang sudah terpapar berita Covid-19, juga rasa ketakutan tinggi. Sebaiknya berita yang baik-baik lebih diperbanyak. Seperti update orang yang sembuh dari Covid-19," katanya kepada TIMES Indonesia, Minggu (29/3/2020).

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Jayabaya Jakarta, Widura Imam Mustopo menyampaikan hal senada. Berita negatif ataupun positif pada dasarnya mempengaruhi bagaimana berpikir tentang sesuatu yang dihadapi. Bila hanya memikirkan hal-hal negatif maka negatif pula yang terjadi.  Demikian pula sebaliknya.

Selain itu, berita negatif yang membuat marah, cemas, sedih dan tertekan maka otak akan mengeluarkan hormon tertentu yang mempengaruhi fisik menjadi lemah, sakit-sakitan, dan rentan terhadap penyakit.

Dalam suasana Covid-19, lanjut dia, jika berita negatif lebih banyak menjadi konsumsi publik, maka kondisi individu masyarakat akan terpengaruh dan konsekuensinya kondisi kesehatan menjadi tidak menguntungkan bahkan memburuk. 

Dia menyarankan, dalam menghadapi masa Covid-19 ini, masyarakat harus berpikir positif dan bersikap tenang supaya mental menjadi sehat dan daya tahan tubuh tidak melemah. Dengan daya tahan tubuh yang tetap terjaga baik, maka tubuh tidak mudah terkena penyakit.

"Bila mengamati berita-berita dari media mainstream terlihat cukup terkontrol. Yang sulit dikendalikan adalah berita-berita atau informasi-informasi yang beredar di media-media sosial. Oleh karena itu, menurut saya pemberitaan media harus seimbang, akan lebih baik bila menonjolkan berita-berita positif dan memberikan harapan," ujarnya. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com