Ini 7 Fakta Keistimewaan Aceh, Mulai Aturan Khusus Hingga Surga Penikmat Kopi

Home / Berita / Ini 7 Fakta Keistimewaan Aceh, Mulai Aturan Khusus Hingga Surga Penikmat Kopi
Ini 7 Fakta Keistimewaan Aceh, Mulai Aturan Khusus Hingga Surga Penikmat Kopi Masjid Raya Baiturrahman (FOTO: Instagram/ibnoesoan)

TIMESJOMBANG, JAKARTA – Aceh memiliki sejumlah keunikan tersendiri untuk para traveler. Aceh merupakan daerah otonomi khusus di Indonesia, selain DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak heran jika Aceh mempunyai beberapa hal unik yang membuatnya istimewa.

Hal-hal unik ini terdiri dari berbagai macam hal dari ketentuan hukum, kawasan wisata, hingga budaya seperti perempuan dengan mahar termahal. Berikut 7 hal unik yang terdapat di Aceh. 

1. Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh 

Masjid Raya Baiturrahman ini menjadi salah satu terindah di Indonesia. Masjid yang terletat di Jalan Moh Jam No.1, Kp. Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh. Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol agama, budaya, semangat, kekuatan, perjuangan dan nasionalisme rakyat Aceh. Masjid ini adalah landmark Banda Aceh sejak era Kesultanan Aceh dan selamat dari bencana tsunami pada 26 Desember 2004 silam. 

2. Aturan Khusus dan Hukum Cambuk

Aceh adalah daerah istimewa dengan aturan khusus sehingga provinsi ini mempunyai hak istimewa membuat aturan hukumnya sendiri yakni Qanun. Provinsi Aceh membuat aturan hukum yang berdasarkan dari Hukum Islam. Dengan landasan hukum ini, Aceh memberlakukan hukum cambuk bagi yang melakukan perbuatan amoral seperti mencuri, berjudi hingga berzina.

3. Museum Tsunami dan Kuburan Massal

Aceh pernah dilanda tragedi besar yang menyedihkan yakni gempa dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam. Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangunlah Museum Tsunami sebagai peringatan untuk mengenang tragedi bencana tersebut. Museum Tsunami ini menjadi satu-satunya museum dengan tema tsunami di dunia. Aceh juga memiliki kuburan massal dari korban jiwa yang meninggal setelah kejian Tsunami.

4. Surga bagi Pecinta Kopi

Aceh juga dikenal memiliki kopi yang khas dikalangan para penggemar Kopi. Ada banyak jenis kopi dengan cita rasa yang khas dari Aceh seperti kopi Gayo dan kopi Ulee Kareng. Bagi wisatawan yang berkunjung ke sini bisa menemukan ribuan warung kopi di berbagai tempat dari kota besar hingga di pedesaan di Aceh, yang buka hingga 24 jam. 

5. Perempuan dengan Mahar Termahal Kedua

Wanita Aceh dikenal memiliki mahal termahal karena kecantikan parasnya. Sebagian besar perempuan aceh berasal dari perpaduan banyak ras di dunia seperti etnis Tionghoa, India, Eropa hingga Arab, sehingga parasnya pun tidak diragukan lagi. Mahar di Aceh dihitung dalam satuan mayam emas. Satu mayam emas setara dengan 3,33 gram emas murni 24 karat yang memiliki harga Rp 550 ribu per gramnya.

Dikalkulasikan dengan biaya pembuatannya maka satu mayam setara dengan Rp 1.831.500. Mahal wanita Aceh berkisar dari 5 mayam hingga 50 mayam emas.
Bila pihak perempuan meminta 20 mayam emas, maka artinya kamu harus membayar sekitar Rp 36 juta belum termasuk biaya pernikahan hingga seserahannya.

6. Memiliki Dua Warisan Dunia Non Benda dari UNESCO

Daerah Aceh mempunyai dua warisan dunia non benda yang ditetapkan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). Pada bulan Juli 2004 lalu, UNESCO menetapkan bahwa Hutan Hujan Tropis Sumatera sebagai warisan dunia non benda menyertakan Taman Nasional Gunung Leuser yang 70 persen luas hutannya berada di provinsi Aceh

Taman Nasional Gunung Leuser menjadi satu wilayah konservasi yang paling penting di muka bumi. Sebagai kawasan konservasi dimana Badak, Orangutan, Gajah dan Harimau Sumatra liar hidup di dalam satu kawasan. Kemudian, pada tahun 2011 Tari Saman menjadi salah satu warisan dunia non benda.

7. Pahlawan Wanita terbanyak di Dunia

Kemudian yang terakhir, Aceh dikenal memiliki pahlawan yang terbanyak di dunia. Bahkan, 2 pejuang wanita di Aceh masuk dalam 7 Warlord Women in The Lord yakni Laksamana Keumalahayati dan Commander Cut Nyak Dhien. Kemudian, kedua jenderal tersebut masuk dalam jajaran 10 Best Female Warrior at All Time dan Women Warrior in South East Asia.

Dalam sejarah Indonesia mencatat setidaknya ada 11 orang wanita aceh yang berjuang mulai dari era Kesultanan Samudra Pasai hingga zaman kolonial Belanda. Nama perempuan tersebut diantaranya adalah Ratu Nahrisyah, Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Syah, Sri Sultan Nurul-Alam Naqiatuddin Syah, Sultanah Inayat Zakiatuddin Syah, Ratu Kamalat Zainatuddin Syah.

Kemudian Laksamana Malahayati atau 'Keumalahayati', Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, dan terakhir seorang ulama besar wanita bernama Teungku Fakinah.

Tertarik untuk menikmati suasana dan keunikan tentang Aceh, yuk segera luangkan waktu untuk berlibur ke wilayah ini.(*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com